Kedai Persinggahan
Kami cuma turis dengan karcis pulang-pergi. Singgah sekejap di kedai riuh bernama dunia.
Duduk, minum dan bergurau di bawah cuaca,
menunggu siklus petang tiba-yang mengantar balik-ke asalnya semula
Kelana-kelana asing akan bersapaan di sini, membincangkan arah angin,
juga tentang bayang-bayang yang jatuh pada rumput memanjang ke timur selepas tengah hari.
Angin mempertemukan kami.
Bayang-bayang kami merapat. Bayang-bayang kami berbincang tentang warna langit.
Nun di barat, horison menyimpan rencana lukisannya.
Hanya Ia-Maha Raya-yang tahu pasti komposisi apa yang akan cahaya perbuat pada sebentang ruang senyap antara mata kami dan matahari.
Barangkali nanti jingga akan teracak rata pada latar magenta, dan tirai violet bertebar tipis atas kelabu, seperti memar fajar lalu.
Kami memang cuma pandai menerka-nerka.
Namun, apapun yang menjelang,
kami telah membukukan janji untuk tak menunggu ujung senja itu dalam sendiri.
Kami berbagi anggur dan roti. Menghadapi meja yang sama.
Saling tergenggam pada jemari dan mulai mengeja kedamaian-kedamaian sederhana.
Perlahan, seperti alir sungai-sungai yang setia.
Pada kedai penantian yang manis ini kami percaya,
nama kami berdua telah dicantumkan-Nya
dalam garis tangan kami sejak jauh sebelum langit diciptakan
(Suffianto R.Wijaya)
Duduk, minum dan bergurau di bawah cuaca,
menunggu siklus petang tiba-yang mengantar balik-ke asalnya semula
Kelana-kelana asing akan bersapaan di sini, membincangkan arah angin,
juga tentang bayang-bayang yang jatuh pada rumput memanjang ke timur selepas tengah hari.
Angin mempertemukan kami.
Bayang-bayang kami merapat. Bayang-bayang kami berbincang tentang warna langit.
Nun di barat, horison menyimpan rencana lukisannya.
Hanya Ia-Maha Raya-yang tahu pasti komposisi apa yang akan cahaya perbuat pada sebentang ruang senyap antara mata kami dan matahari.
Barangkali nanti jingga akan teracak rata pada latar magenta, dan tirai violet bertebar tipis atas kelabu, seperti memar fajar lalu.
Kami memang cuma pandai menerka-nerka.
Namun, apapun yang menjelang,
kami telah membukukan janji untuk tak menunggu ujung senja itu dalam sendiri.
Kami berbagi anggur dan roti. Menghadapi meja yang sama.
Saling tergenggam pada jemari dan mulai mengeja kedamaian-kedamaian sederhana.
Perlahan, seperti alir sungai-sungai yang setia.
Pada kedai penantian yang manis ini kami percaya,
nama kami berdua telah dicantumkan-Nya
dalam garis tangan kami sejak jauh sebelum langit diciptakan
(Suffianto R.Wijaya)
*Saya suka puisi ini. Saya mengutip puisi ini dari Danu, rekan saya di kursus narasi. Danu tidak tahu apa judul puisi ini (saya mencoba lancang untuk memberinya judul “Pernikahan”, Danu dan Mbak Zahlia memberi usul lain. Akhirnya saya pilih judul dari mbak Zahlia, Kedai Persinggahan). Oya, saya dan Danu tak tahu siapa penulis puisi ini. Saya coba cari nama Suffianto R. Wijaya dengan bantuan Paman Google, tapi tak berhasil mendapatkan informasi tentang dia. Jika Anda bertemu penulis puisi ini, tolong bilang padanya, puisinya menentramkan…